WAHANANEWS.CO, Jakarta - Lonjakan kunjungan ke Ibu Kota Nusantara (IKN) dinilai menjadi bukti nyata keberhasilan arah pembangunan nasional, sekaligus memperkuat martabat kepemimpinan Prabowo-Gibran dalam membangun pusat peradaban baru Indonesia.
Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menilai tingginya antusiasme masyarakat terhadap Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap proyek strategis nasional tersebut terus tumbuh.
Baca Juga:
Wapres Gibran Apresiasi Usulan DPR Berkantor di IKN Ajak Semua Lembaga Negara
"Fenomena lonjakan pengunjung ini bukan sekadar wisata, tetapi bentuk legitimasi sosial bahwa IKN diterima sebagai simbol masa depan Indonesia yang maju, inklusif, dan berkelanjutan," ujar Tohom, beberapa waktu lalu.
Ia menegaskan, angka 352.102 pengunjung dalam 12 hari selama periode 18–29 Maret 2026 merupakan sinyal kuat bahwa pembangunan IKN tidak lagi sekadar wacana, melainkan telah menjadi realitas yang dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
Menurutnya, keberhasilan menarik puluhan ribu kendaraan dan wisatawan ke kawasan yang sebelumnya dianggap terpencil membuktikan efektivitas konektivitas dan percepatan infrastruktur yang dibangun pemerintah.
Baca Juga:
DPR Siap ke IKN, Tapi Tunggu Mitra Eksekutif Ikut Pindah
"Ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya fokus pada fisik, tetapi juga membangun rasa memiliki masyarakat terhadap IKN sebagai rumah bersama bangsa," tambahnya.
Tohom juga menyoroti titik-titik strategis seperti Istana Negara, Masjid Negara, Jembatan Kaca, hingga Bendungan Sepaku Semoi yang menjadi magnet utama kunjungan sebagai simbol integrasi antara fungsi pemerintahan, budaya, dan pariwisata.
Ia melihat transformasi ruang publik seperti Plaza Seremoni dan Plaza Bhinneka sebagai indikator tumbuhnya ekosistem sosial yang sehat dan dinamis di kawasan tersebut.
"Ketika ruang publik hidup, kuliner tumbuh, interaksi sosial berkembang, itu berarti kota ini tidak dibangun secara kaku, tetapi dengan pendekatan humanis dan berorientasi pada masyarakat," jelasnya.
Tohom menilai kehadiran fasilitas edukatif seperti Sentra Massa yang menampilkan konsep kota cerdas menjadi langkah strategis dalam membangun literasi publik terhadap arah pembangunan nasional berbasis teknologi.
Lebih jauh, ia mengapresiasi kesiapan pelayanan dan pengamanan yang melibatkan berbagai unsur seperti TNI, Polri, hingga tenaga kesehatan dalam mengelola lonjakan pengunjung secara profesional.
"Ini adalah gambaran tata kelola modern yang kolaboratif, di mana negara hadir secara nyata dalam memastikan kenyamanan dan keamanan masyarakat," ujarnya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch menambahkan bahwa IKN memiliki potensi besar menjadi pusat pertumbuhan baru yang akan mengurangi ketimpangan pembangunan antarwilayah di Indonesia.
"IKN bukan hanya memindahkan pusat pemerintahan, tetapi juga mendistribusikan kesejahteraan dan membuka peluang ekonomi baru di kawasan timur Indonesia," katanya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan, sejalan dengan harapan pengunjung internasional yang melihat IKN sebagai kota modern di tengah hutan.
"Prinsip pembangunan hijau harus tetap dijaga, karena di situlah nilai tambah IKN di mata dunia, yakni harmoni antara kemajuan dan keberlanjutan," ucapnya.
Menurut Tohom, keterbukaan pemerintah dalam memperlihatkan progres pembangunan kepada publik melalui pendekatan “seeing is believing” menjadi strategi komunikasi yang efektif dalam membangun kepercayaan.
"IKN adalah simbol martabat bangsa, dan di bawah kepemimpinan Prabowo-Gibran, kita melihat arah pembangunan yang tidak hanya ambisius tetapi juga terukur dan inklusif," pungkasnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]