Tohom yang juga Ketua Aglomerasi Watch menambahkan bahwa perkembangan ini memiliki implikasi lebih luas terhadap tata ruang dan pengelolaan kawasan IKN.
“Kawasan IKN akan tumbuh sebagai aglomerasi hijau yang memadukan teknologi, efisiensi energi, dan konektivitas antarwilayah. Sinergi PLTA dengan pembangunan infrastruktur lainnya akan menciptakan kawasan metropolitan baru yang rendah emisi dan berdaya saing global,” ungkapnya.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran: Hibah Rp39 Miliar dari AS Bukti Kepercayaan Global pada Visi IKN
Dalam pandangan Tohom, langkah Indonesia memperkuat hubungan dengan negara non-tradisional seperti Tajikistan mencerminkan visi geopolitik baru yang lebih adaptif dan progresif.
“Ini bagian dari reposisi Indonesia dalam rantai nilai global. Kita tidak lagi sekadar mengekspor bahan mentah, tetapi membangun jejaring energi bersih dan industri bernilai tambah tinggi,” tegasnya.
Sebelumnya, kerja sama Indonesia–Tajikistan dibahas dalam pertemuan Duta Besar RI untuk Kazakhstan dan Tajikistan, M. Fadjroel Rachman, dengan Perdana Menteri Tajikistan, Qohir Rasulzoda, di Dushanbe pada 4 Juni 2025.
Baca Juga:
Tinjau IKN, Rini Widyantini Pastikan ASN Siap Tinggal Nyaman dan Bekerja Efisien
Pembahasan meliputi potensi investasi alumina senilai 2 miliar dolar AS dan pengembangan energi hidro untuk mendukung IKN.
Tajikistan, negara yang memperoleh sekitar 90 persen listriknya dari tenaga air, menawarkan kemampuan teknis dan teknologi yang relevan untuk pengembangan PLTA di Indonesia.
Kerja sama ini diharapkan memperkuat rencana besar PLTA Sungai Kayan berkapasitas lebih dari 13.000 MW yang sebagian energinya akan diperuntukkan bagi IKN.