Nusantara.WAHANANEWS.Co - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran menyambut positif apresiasi investor China terhadap keputusan Presiden Prabowo Subianto melanjutkan pembangunan Ibu Kota Nusantara serta membuka ruang luas bagi investasi asing.
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran KRT Tohom Purba mengatakan, “Kepercayaan investor asing menunjukkan bahwa arah pembangunan IKN di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo memiliki kepastian, keberlanjutan, dan prospek ekonomi yang kuat.”
Baca Juga:
Satgas IKN Berantas Tambang Ilegal, MARTABAT Prabowo-Gibran: Tata Kelola Kawasan Harus Tegas dan Visioner
Menurut Tohom, keputusan pemerintah meneruskan pembangunan IKN memberikan pesan jelas bahwa Indonesia tetap konsisten menjalankan agenda transformasi pusat pemerintahan dan pembangunan kawasan baru.
Ia menilai konsistensi kebijakan menjadi salah satu faktor utama yang dibutuhkan investor sebelum menanamkan modal dalam proyek jangka panjang.
“Investor membutuhkan kepastian bahwa proyek berjalan berdasarkan perencanaan yang matang, dukungan infrastruktur yang nyata, serta komitmen pemerintah yang tidak berubah-ubah,” ujar Tohom.
Baca Juga:
Plaza Seremoni IKN Raih Honour Award, MARTABAT Prabowo-Gibran: Bukti Arah Pembangunan Nusantara Diakui Dunia
Direktur Utama PT Starbright International Investment Lu Keming sebelumnya mengapresiasi dukungan Presiden Prabowo terhadap keterlibatan investor asing dalam pembangunan IKN.
Perusahaan tersebut telah menandatangani kesepakatan dengan Otorita IKN untuk mengerjakan sejumlah proyek konstruksi dalam beberapa tahapan.
Proyek yang direncanakan meliputi pembangunan apartemen, kawasan ritel, serta perkantoran di kawasan ibu kota baru tersebut.
Lu menyebut pelaksanaan proyek berjalan lancar berkat dukungan infrastruktur yang telah disiapkan oleh Otorita IKN.
Infrastruktur air dan listrik juga disebut telah tersedia serta terhubung langsung dengan lokasi proyek milik investor.
Tohom menilai kesiapan infrastruktur dasar menjadi bukti bahwa pembangunan IKN tidak hanya berhenti pada perencanaan, tetapi telah bergerak menuju pembentukan ekosistem perkotaan yang siap dihuni dan dikembangkan.
“Ketersediaan air, listrik, jalan, telekomunikasi, serta fasilitas publik akan menentukan seberapa cepat investasi dapat berubah menjadi kegiatan ekonomi dan lapangan kerja,” katanya.
Menurutnya, keterlibatan investor dari China, Korea Selatan, Jepang, dan Uni Emirat Arab semakin memperkuat karakter IKN sebagai calon kota dengan jaringan ekonomi global.
Ia mengatakan keberagaman sumber investasi juga dapat memperluas kerja sama teknologi, konstruksi, properti, energi, transportasi, dan pengembangan kawasan hijau.
Investasi China di IKN hingga saat ini disebut telah mencapai sekitar 2 miliar yuan atau setara dengan Rp5,2 triliun.
Nilai tersebut diperkirakan masih bertambah seiring berjalannya pembangunan serta meningkatnya kepercayaan terhadap prospek IKN.
“Arus modal harus diarahkan agar menciptakan manfaat nyata bagi masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja, kemitraan dengan pengusaha lokal, dan penggunaan produk dalam negeri,” ujarnya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa pertumbuhan IKN harus dirancang bersama pengembangan wilayah penyangga di Kalimantan Timur.
Menurutnya, pembangunan ibu kota tidak boleh membentuk pusat pertumbuhan yang terpisah dari Balikpapan, Samarinda, Penajam Paser Utara, Kutai Kartanegara, dan daerah sekitarnya.
“IKN harus menjadi mesin penggerak aglomerasi yang menghubungkan kawasan pemerintahan, industri, permukiman, logistik, pendidikan, dan pariwisata,” kata Tohom.
Ia berpandangan konektivitas antarkawasan akan menentukan seberapa luas dampak ekonomi IKN dapat dirasakan masyarakat Kalimantan dan Indonesia bagian timur.
Tohom juga mendukung harapan investor agar bandara di IKN segera melayani penerbangan komersial internasional.
Menurutnya, penerbangan langsung akan memangkas waktu perjalanan investor, pelaku usaha, wisatawan, dan delegasi internasional menuju pusat pemerintahan baru.
“Bandara internasional akan menjadi pintu masuk strategis yang memperkuat posisi IKN sebagai pusat pemerintahan sekaligus destinasi investasi dunia,” katanya.
Ia mengingatkan agar pembukaan penerbangan komersial tetap disesuaikan dengan kesiapan keselamatan, kebutuhan penumpang, integrasi transportasi, serta keberlanjutan operasional.
Tohom optimis IKN dapat berkembang menjadi kawasan urban yang modern dan makmur apabila pembangunan fisik diikuti tata kelola yang transparan, pelayanan publik berkualitas, serta perlindungan terhadap lingkungan.
“Apresiasi investor China harus menjadi energi bagi pemerintah untuk mempercepat pembangunan IKN secara terukur, inklusif, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi seluruh rakyat Indonesia,” tutup Tohom.
[Redaktur: Sandy]