Nusantara.WAHANANEWS.CO - Pembangunan jembatan satwa endemik di atas Tol Ibu Kota Nusantara (IKN) menuai apresiasi dari Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran.
Infrastruktur tersebut dinilai menjadi indikator bahwa kawasan Otorita IKN tidak hanya dibangun untuk mengejar konektivitas, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan ekosistem hutan Kalimantan.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo Gibran Apresiasi Kolaborasi CAT BKN–OIKN Wujudkan Dream Team ‘Pegawai Berintegritas’ untuk Dukung Pembangunan Otorita IKN
Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menilai kehadiran jembatan satwa sebagai langkah strategis yang menandai perubahan paradigma pembangunan nasional.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur besar kini mulai ditempatkan sejalan dengan prinsip perlindungan lingkungan.
“Jembatan satwa ini merupakan simbol bahwa pembangunan Indonesia sedang bergerak menuju standar kelas dunia,” ujarnya, Rabu (31/12/2025).
Baca Juga:
41 Tower Hunian Digarap Konsorsium AS dan Korea, MARTABAT Prabowo-Gibran: Wujud Otorita IKN Kian Nyata
Ia mengungkapkan bahwa kota masa depan harus dibangun dengan kesadaran ekologis, bukan dengan mengorbankan ruang hidup satwa demi percepatan proyek.
Tohom juga menegaskan bahwa kehadiran jembatan satwa di atas Tol IKN bukan keputusan teknis semata, melainkan pilihan politik pembangunan.
“Negara sedang mengirim pesan bahwa pembangunan tidak boleh memutus rantai ekologi. Ini keputusan yang berani dan tidak populis, tapi sangat penting,” ujarnya.
Tohom mengatakan, perlindungan terhadap satwa endemik seperti orangutan, macan dahan, bekantan, dan beruang madu menunjukkan bahwa negara mulai menempatkan keberlanjutan sebagai ukuran keberhasilan proyek.
“Kalau tol dibangun cepat tapi merusak habitat, itu bukan kemajuan. Yang disebut maju adalah ketika infrastruktur hadir tanpa membuat alam kalah,” katanya.
Ia mengapresiasi langkah PT Waskita Karya (Persero) Tbk yang menerapkan teknologi konstruksi berkelanjutan, termasuk penggunaan timbunan ringan mortar busa.
Menurut Tohom, pendekatan tersebut membuktikan bahwa BUMN Indonesia mampu bekerja dengan standar global.
“Ini bukan proyek asal jadi. Ada kesadaran bahwa satwa harus merasa aman melintas, bukan sekadar dipindahkan,” ucapnya.
Tohom yang juga Ketua Aglomerasi Watch menilai pembangunan IKN memberikan preseden baru dalam pengelolaan kawasan aglomerasi nasional.
Ia menyebut integrasi antara jalan tol, hutan lindung, dan koridor satwa sebagai praktik tata ruang modern yang selama ini kerap hanya menjadi konsep di atas kertas.
“IKN sedang diuji. Kalau ini konsisten, kita punya model kota baru yang ramah alam,” katanya.
Tohom menambahkan, proyek Tol IKN Seksi 3B yang ditargetkan rampung pada Agustus 2026 harus dijaga konsistensinya hingga tahap operasional.
"Kelas dunia itu bukan pada saat peresmian, tetapi ketika kebijakan ini tetap dijaga puluhan tahun ke depan,” ujarnya.
Menurut Tohom, kehadiran jembatan satwa di kawasan Otorita IKN memperkuat posisi Indonesia di mata internasional sebagai negara yang mampu membangun kota modern dengan tanggung jawab ekologis.
“Kalau ini berhasil, IKN bukan hanya ibu kota baru, tapi simbol bahwa pembangunan Indonesia sudah naik kelas,” tutupnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]