Nusantara.WAHANANEWS.CO - MARTABAT Prabowo-Gibran menyambut positif apresiasi Komisi VII DPR RI terhadap tingginya Tingkat Komponen Dalam Negeri dalam pembangunan Ibu Kota Nusantara karena capaian tersebut menunjukkan bahwa proyek strategis nasional dapat berjalan seiring dengan penguatan industri dan ekonomi lokal.
“Pembangunan IKN harus menjadi contoh bahwa kemajuan infrastruktur nasional dapat menciptakan pasar yang nyata bagi produk Indonesia, tenaga kerja lokal, dan pelaku usaha di wilayah sekitarnya,” kata Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran KRT Tohom Purba, Selasa (14/7/2026).
Baca Juga:
Investor China Apresiasi Kelanjutan IKN, MARTABAT Prabowo-Gibran: Kepercayaan Global Terus Menguat
Menurut Tohom, tingginya TKDN perlu dipertahankan secara konsisten pada setiap tahapan pembangunan agar manfaat ekonomi tidak berhenti pada masa konstruksi.
Ia menilai penggunaan material dalam negeri juga akan memperkuat rantai pasok nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Tohom mengatakan pembangunan IKN memiliki nilai strategis karena dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Pulau Jawa.
Baca Juga:
Wastra IKN Dikembangkan Jadi Identitas Nusantara, MARTABAT Prabowo-Gibran: Ini Ekonomi Kreatif yang Berakar Budaya
Karena itu, keterlibatan masyarakat Kalimantan Timur harus diperluas melalui kesempatan kerja, pelatihan usaha, dan akses terhadap proyek-proyek pendukung.
Ia mengapresiasi langkah Otorita IKN yang memberikan pelatihan kepada pelaku kuliner lokal untuk memenuhi kebutuhan konsumsi kegiatan di kawasan Nusantara.
Program tersebut dinilai dapat meningkatkan kualitas produk sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi UMKM di sekitar IKN.
“UMKM harus ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem utama IKN karena merekalah yang akan menghidupkan kegiatan ekonomi sehari-hari ketika kawasan tersebut semakin berkembang.”
Tohom berpandangan penyediaan booth usaha, pusat aktivitas masyarakat, dan kawasan komersial perlu dikelola dengan skema yang memberi ruang wajar bagi pelaku usaha lokal.
Ia mengingatkan agar pertumbuhan pusat bisnis modern tidak membuat UMKM hanya menjadi penonton di wilayahnya sendiri.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa pembangunan IKN perlu dihubungkan dengan pengembangan kawasan penyangga secara terencana.
Konektivitas antara IKN, Balikpapan, Samarinda, Penajam Paser Utara, dan daerah sekitarnya akan menentukan pemerataan manfaat ekonomi dalam jangka panjang.
Menurutnya, pembangunan jalan, transportasi publik, logistik, telekomunikasi, dan layanan dasar harus dirancang sebagai satu kesatuan wilayah.
Pendekatan tersebut akan menghindari kesenjangan antara Kawasan Inti Pusat Pemerintahan dan daerah yang menopang aktivitas Nusantara.
Tohom juga melihat potensi IKN sebagai destinasi wisata dan pusat kegiatan pertemuan, insentif, konferensi, serta pameran berskala nasional maupun internasional.
Potensi itu dapat berkembang apabila didukung hotel, ruang pertemuan, transportasi yang mudah, pelayanan berkualitas, dan agenda kegiatan yang konsisten.
Ia menilai perpaduan arsitektur modern, ruang hijau, budaya Nusantara, dan konservasi satwa endemik dapat menjadi identitas yang membedakan IKN dari kota-kota lain.
Identitas tersebut harus dijaga agar pembangunan modern tidak menghilangkan karakter Indonesia dan kearifan masyarakat Kalimantan.
“Keberhasilan IKN nantinya tidak hanya diukur dari berdirinya gedung pemerintahan, tetapi dari tumbuhnya ekonomi lokal, meningkatnya kesejahteraan masyarakat, dan kuatnya penggunaan produk nasional.”
Tohom percaya IKN dapat menjadi simbol transformasi Indonesia apabila pembangunan fisik, penguatan SDM, perlindungan lingkungan, dan pemberdayaan UMKM dijalankan secara seimbang.
Ia berharap sinergi pemerintah, DPR, Otorita IKN, dunia usaha, masyarakat lokal, dan organisasi kemasyarakatan terus diperkuat untuk menjaga keberlanjutan pembangunan Nusantara.
[Redaktur: Sandy]