Nusantara.WAHANANEWS.CO – Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran menyambut positif langkah pemerintah dalam membangun sistem Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) regional di kawasan Otorita IKN dan wilayah penyangga Kalimantan Timur.
Program tersebut dinilai menjadi terobosan strategis untuk menghapus persoalan kumuh, bau sampah, sekaligus memperkuat ketahanan energi berbasis lingkungan di masa depan.
Baca Juga:
Diduga Peras Sopir dan Todong Senpi Rakitan, Kelompok Ngaku “Hafis CS” Resahkan Jalur Bukit Alahu Bahar
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba mengatakan proyek PSEL Samarinda Raya dan Balikpapan Raya menunjukkan keseriusan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam membangun wajah baru Indonesia yang modern, sehat, dan berkelas dunia.
“Ini bukan hanya proyek pengelolaan sampah biasa. Pemerintah sedang membangun fondasi peradaban baru di kawasan IKN. Sampah yang selama ini dipandang sebagai masalah kini diubah menjadi sumber energi dan kekuatan ekonomi hijau,” ujar Tohom Purba, Sabtu (23/5/2026).
Menurut Tohom, keberanian pemerintah membangun sistem pengelolaan sampah regional merupakan langkah visioner karena persoalan limbah perkotaan tidak mungkin lagi diselesaikan dengan pola lama yang hanya mengandalkan tempat pembuangan akhir.
Baca Juga:
Komitmen Kabareskrim Polri Memberantas Mafia BBM Dikangkangi di Jambi, 2 Truck BBM Ilegal Diduga Milik Asri DPO Kembali Diamankan Di Tebo
“Kalau kota-kota besar ingin naik kelas menjadi kota dunia, maka persoalan sampah harus selesai total. Tidak boleh ada lagi kawasan strategis nasional yang identik dengan bau, tumpukan limbah, dan pencemaran lingkungan,” katanya.
Ia menilai proyek PSEL di Kalimantan Timur juga akan menjadi contoh nasional bagi daerah lain dalam mengembangkan konsep waste-to-energy yang terintegrasi dengan kebutuhan energi bersih masyarakat.
“Ke depan, pengelolaan sampah tidak boleh dipisahkan dari agenda ketahanan energi nasional. Dunia sedang bergerak menuju ekonomi sirkular, dan Indonesia tidak boleh tertinggal dalam transformasi itu,” ucapnya.
Tohom menyebut langkah pemerintah membangun kolaborasi lintas daerah antara Otorita IKN, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Balikpapan, Samarinda, hingga Kutai Kartanegara merupakan model tata kelola modern yang harus diperluas ke berbagai wilayah lain di Indonesia.
“Masalah sampah tidak mengenal batas administrasi. Karena itu pendekatan regional seperti ini jauh lebih efektif dibanding masing-masing daerah berjalan sendiri-sendiri,” tuturnya.
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini mengatakan pembangunan PSEL memiliki dampak strategis jangka panjang karena mampu mengurangi emisi gas metana dari timbunan sampah sekaligus menciptakan sumber listrik alternatif yang lebih ramah lingkungan.
“PSEL adalah kombinasi antara solusi lingkungan dan solusi energi. Kalau dikelola dengan teknologi modern dan pengawasan ketat, maka Indonesia bisa memiliki sistem pengelolaan limbah yang bukan hanya bersih, tetapi juga produktif,” ungkapnya.
Ia juga memandang target Presiden Prabowo untuk menyelesaikan persoalan sampah nasional dalam dua hingga tiga tahun merupakan tantangan besar yang membutuhkan keberanian politik, konsistensi kebijakan, dan dukungan seluruh elemen masyarakat.
“Kalau visi besar ini berjalan konsisten, Indonesia berpeluang menjadi salah satu negara dengan transformasi pengelolaan sampah tercepat di kawasan Asia,” katanya.
Sebelumnya, pemerintah resmi menandatangani Kesepakatan Bersama penyelenggaraan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) wilayah Samarinda Raya dan Balikpapan Raya sebagai bagian dari percepatan pembangunan kawasan Otorita IKN dan penguatan sistem energi berkelanjutan di Kalimantan Timur.
[Redaktur: Sobar Bahtiar]