Ia juga menyoroti alokasi anggaran yang difokuskan pada operasional dan pemeliharaan fasilitas dasar, pemberdayaan masyarakat lokal, serta penguatan sistem digital pemerintahan.
Menurutnya, kombinasi ini menciptakan ekosistem kota yang tidak hanya layak huni, tetapi juga produktif secara ekonomi.
Baca Juga:
Menuju Negara Maju, MARTABAT Prabowo-Gibran: Semua Daerah Bisa Tiru Kawasan Otorita IKN Bebas Kabel Semrawut dan Lubang Galian
Dalam analisis visionernya, Tohom memandang IKN sebagai “magnet baru” yang akan menggeser pusat gravitasi ekonomi Indonesia dari Jawa ke Kalimantan.
Ia memperkirakan, dalam beberapa tahun ke depan, kawasan ini akan berkembang menjadi hub investasi di sektor energi hijau, teknologi digital, hingga industri kreatif berbasis kearifan lokal.
“Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa pembangunan IKN tidak bisa dilihat sebagai proyek jangka pendek, melainkan sebagai grand design transformasi Indonesia menuju negara maju. Efek aglomerasinya akan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru yang saling terhubung,” paparnya.
Baca Juga:
Libur Lebaran 2026 Berubah! IKN Disulap Jadi Wisata Masa Depan
Ia pun mengimbau para pelaku usaha, baik nasional maupun internasional, untuk tidak ragu mengambil posisi sejak dini.
Menurutnya, investasi awal di IKN akan memberikan keuntungan strategis dalam jangka panjang, terutama ketika kawasan inti pusat pemerintahan (KIPP) mulai beroperasi penuh.
Dengan turunnya DIPA dan kesiapan struktur pengelola anggaran yang profesional, Tohom optimistis IKN telah memasuki fase “point of no return”.