“Inilah alasan mengapa MARTABAT melihat OIKN sebagai role model baru Indonesia. Jika etos ini konsisten, ia akan menular ke provinsi-provinsi lain. Kita butuh pusat gravitasi baru untuk perubahan,” kata Tohom.
Dalam analisisnya, Tohom menyoroti dua aspek: pertama, bahwa pembangunan IKN adalah kebijakan politik jangka panjang yang membutuhkan keberanian untuk menata ulang pola hubungan pusat–daerah; kedua, bahwa bangsa ini sedang membutuhkan titik referensi birokrasi yang lebih tangkas dan profesional.
Baca Juga:
TKDN IKN Dinilai Perkuat Ekonomi Nasional, MARTABAT Prabowo-Gibran: Jaga Identitas dan Kemandirian Nasional
“Kita tidak sedang memindahkan bangunan, kita sedang memindahkan cara berpikir. Ini jauh lebih berat, tetapi jauh lebih penting,” ujarnya.
Tohom yang juga Ketua Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa keberhasilan IKN akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan ASN untuk mengelola integrasi kawasan, digitalisasi layanan, dan dinamika urban baru di wilayah yang sedang berkembang pesat.
Menurutnya, tantangan di lapangan bukan hanya soal fisik, melainkan soal menjaga konsistensi kultur kinerja yang modern dan adaptif.
Baca Juga:
Komisi VII DPR Dorong IKN Jadi Destinasi Sports Tourism Lewat Ajang Fun Run Berkala
“Aglomerasi Nusantara adalah laboratorium besar. Jika OIKN sukses membangun kultur kerjanya, Indonesia akan memiliki kota pemerintahan dengan standar global,” ujarnya.
Tohom menegaskan bahwa MARTABAT Prabowo–Gibran akan terus memberikan dukungan moral, kajian strategis, serta dorongan publik agar OIKN tetap berada di jalur yang progresif, baik dalam digitalisasi layanan, sistem pemerintahan berbasis elektronik, maupun transformasi budaya kerja ASN.
Ia menutup dengan optimisme bahwa IKN, jika dikelola dengan konsisten, dapat menjadi ikon kemajuan pemerintahan Indonesia dan simbol kepemimpinan nasional yang visioner.