Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa pengembangan IKN harus menjadi model aglomerasi baru yang menghubungkan pusat pemerintahan, kawasan penyangga, pelaku usaha, perbankan, pasar digital, dan komunitas lokal dalam satu ekosistem ekonomi yang sehat.
Menurutnya, Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara memiliki peluang besar untuk tumbuh sebagai kawasan penyangga ekonomi IKN apabila UMKM lokal dibekali keterampilan manajemen, digitalisasi, akses modal, dan jaringan pemasaran.
Baca Juga:
Infrastruktur IKN Capai Progres Signifikan, MARTABAT Prabowo-Gibran: Visi Besar Harus Dikawal Serius
Ia menambahkan bahwa digitalisasi pencatatan keuangan akan membantu pelaku UMKM lebih mudah mengukur keuntungan, mengatur arus kas, menyusun rencana usaha, dan meyakinkan lembaga pembiayaan.
“Ini adalah fondasi ekonomi masa depan, karena UMKM yang tertib secara keuangan akan lebih mudah tumbuh, lebih tahan menghadapi perubahan, dan lebih siap masuk ke rantai pasok pembangunan IKN,” tutur Tohom.
MARTABAT Prabowo-Gibran berharap kolaborasi Otorita IKN, Bank Indonesia, OJK, pemerintah daerah, perbankan, dan komunitas usaha terus diperluas agar UMKM lokal benar-benar menjadi bagian penting dari wajah ekonomi Nusantara.
Baca Juga:
Jenderal Listyo Sigit Mutasi 1.121 Perwira Polri, Bentuk Polresta Baru di IKN
Sebelumnya, Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN Alimuddin menyatakan pembangunan IKN harus memberikan manfaat nyata bagi warga lokal melalui penguatan pelaku usaha agar mampu menangkap peluang ekonomi yang terus berkembang.
Sekretariat Kerja Bersama KOPERBI IKN Aura Pandu Wirawan menyampaikan bahwa kolaborasi dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas UMKM agar semakin kuat, maju, dan mampu memanfaatkan peluang ekonomi di kawasan IKN.
Salah satu peserta, Reni, pelaku usaha keripik pisang asal Kabupaten Penajam Paser Utara, mengaku pembekalan SIAPIK membantu pelaku usaha beralih dari pencatatan manual menuju sistem digital yang lebih tertata.