Nusantara.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran merespons positif kolaborasi Otorita Ibu Kota Nusantara dan Bank Indonesia dalam memberikan pelatihan serta pendampingan kepada perajin wastra di IKN dan sekitarnya sebagai langkah visioner untuk membangun wajah budaya Nusantara melalui ekonomi kreatif lokal.
Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, mengatakan pelatihan pengembangan motif batik bagi perajin wastra di kawasan IKN merupakan bentuk nyata bahwa pembangunan ibu kota baru tidak hanya berbicara tentang gedung, jalan, dan teknologi, tetapi juga tentang manusia, budaya, dan identitas bangsa.
Baca Juga:
Plaza Seremoni IKN Raih Honour Award, MARTABAT Prabowo-Gibran: Bukti Arah Pembangunan Nusantara Diakui Dunia
"IKN harus menjadi ruang tumbuh bagi kebudayaan Indonesia, dan wastra adalah salah satu bahasa visual paling kuat untuk memperkenalkan jiwa Nusantara kepada dunia," ujar Tohom, Sabtu (4/7/2026)
Menurut Tohom, kegiatan yang digelar pada 17–19 Juni 2026 di Kantor Kemenko 1 IKN tersebut memiliki nilai strategis karena menghadirkan ruang pembelajaran bagi para perajin untuk mengembangkan motif, memperkuat kualitas desain, dan membangun karakter produk yang khas.
Ia menilai keterlibatan sembilan kelompok batik dan wastra dengan total 50 peserta, termasuk 30 perajin batik yang mendapatkan pendampingan desain, menunjukkan bahwa masyarakat sekitar IKN dapat menjadi pelaku utama dalam ekosistem ekonomi kreatif ibu kota baru.
Baca Juga:
Infrastruktur IKN Capai Progres Signifikan, MARTABAT Prabowo-Gibran: Visi Besar Harus Dikawal Serius
Tohom mengatakan proses kreatif melalui mind mapping, moodboard, pengembangan elemen visual, komposisi motif, hingga penyempurnaan desain merupakan pendekatan yang penting agar produk wastra lokal tidak hanya indah secara tampilan, tetapi juga memiliki cerita, nilai, dan daya saing.
"Produk budaya yang kuat adalah produk yang punya akar, punya narasi, dan punya keberanian untuk masuk ke pasar modern tanpa kehilangan jati dirinya," kata Tohom.
Ia berpandangan bahwa pendampingan oleh pelaku usaha dan pengembang batik seperti Tepa Selira menjadi langkah tepat karena perajin membutuhkan jembatan antara tradisi, inovasi, kualitas produksi, dan selera pasar yang terus bergerak.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa IKN harus berkembang sebagai pusat pertumbuhan baru yang tidak meminggirkan masyarakat lokal, melainkan mengangkat keterampilan, kreativitas, dan produk mereka agar mampu masuk ke rantai ekonomi yang lebih luas.
Menurut dia, pernyataan OIKN bahwa wastra di sekitar IKN sudah tumbuh dan masih membutuhkan penguatan harus dibaca sebagai peluang besar untuk membangun klaster ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
Ia juga mengapresiasi pandangan Bank Indonesia IKN bahwa identitas ibu kota baru perlu hadir melalui karya masyarakat, termasuk batik dan wastra, karena kota masa depan membutuhkan simbol budaya yang hidup di tengah masyarakatnya.
"Modernisasi IKN harus berjalan beriringan dengan penguatan budaya, sebab kota yang maju tanpa identitas akan kehilangan ruh kebangsaannya," ujar Tohom.
Tohom menilai semangat transformasi dan digitalisasi IKN dapat dipadukan dengan karya wastra melalui pengembangan desain modern, pemasaran digital, sertifikasi kualitas, katalog produk, hingga peluang masuk ke pasar nasional dan internasional.
Ia mendorong agar pelatihan semacam ini tidak berhenti pada workshop, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan bisnis, akses pembiayaan, promosi terpadu, kurasi produk, serta koneksi dengan industri fesyen, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
Menurutnya, jika dilakukan secara berkelanjutan, wastra IKN dapat menjadi ikon budaya sekaligus sumber ekonomi baru bagi masyarakat lokal di sekitar Nusantara.
"MARTABAT Prabowo-Gibran melihat program seperti ini sejalan dengan semangat pemerintahan Prabowo-Gibran untuk membangun Indonesia dari kekuatan rakyat, budaya, dan kemandirian ekonomi," kata Tohom.
Ia berharap karya para perajin wastra IKN dapat menjadi bagian dari narasi besar ibu kota baru sebagai kota dunia yang tetap berpijak pada nilai Nusantara.
[Redaktur: Sobar Bahtiar]