"Pembangunan IKN akan jauh lebih kuat jika terhubung dengan ekosistem energi, logistik, industri, pendidikan, kesehatan, teknologi, dan layanan publik yang bekerja dalam satu arah pembangunan nasional," ucapnya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa IKN harus dirancang sebagai simpul pertumbuhan yang mampu menggerakkan kawasan sekitarnya, bukan hanya menjadi kawasan pemerintahan yang berdiri sendiri.
Baca Juga:
Hibah Rp115,94 Miliar untuk Smart City IKN, MARTABAT Prabowo-Gibran: Investasi Pengetahuan dan Teknologi
Menurutnya, pembangunan ibu kota baru harus membuka ruang bagi tumbuhnya pusat ekonomi baru di Kalimantan Timur, memperkuat rantai pasok nasional, serta menciptakan manfaat nyata bagi masyarakat lokal, pelaku usaha, tenaga kerja, dan generasi muda.
"Kalau infrastruktur dasarnya kuat, maka investasi akan lebih percaya diri masuk, lapangan kerja bisa tumbuh, dan masyarakat sekitar harus menjadi bagian dari manfaat pembangunan itu," ujarnya.
Tohom juga mengapresiasi Hutama Karya yang telah menyelesaikan sejumlah proyek penting di IKN, antara lain Masjid Negara, Gedung Sarana dan Prasarana 1B, Jalan Otorita IKN Paket F, Jalan Tol IKN Segmen 3A-1, serta Jembatan Pulau Balang.
Baca Juga:
PAMA, UGM, dan Otorita IKN Hijaukan Nusantara Lewat Penanaman Pohon di Eco-Edu Forest
Ia mengatakan, pembangunan Jalan Kawasan Yudikatif yang telah mencapai 22,20 persen serta pembangunan gedung lembaga tinggi negara seperti Mahkamah Agung, Plaza Keadilan, dan Gedung MPR perlu terus dikawal agar memenuhi standar mutu, keselamatan kerja, dan ketepatan waktu.
Menurut Tohom, keberhasilan pembangunan IKN tidak cukup diukur dari persentase progres konstruksi, tetapi juga dari kualitas tata kelola, transparansi pelaksanaan, kesiapan layanan dasar, dan kemampuan kawasan tersebut menghadirkan manfaat jangka panjang bagi negara.
"MARTABAT Prabowo-Gibran memandang IKN sebagai proyek peradaban yang harus dijaga bersama, karena di sana ada kepentingan pemerintahan, ekonomi, lingkungan, teknologi, dan masa depan generasi Indonesia," katanya.