Ia menyebut konsep tersebut sejalan dengan semangat IKN sebagai kota modern yang tidak hanya berorientasi ekonomi, tetapi juga sosial dan budaya.
Tohom yang juga Ketua Aglomerasi Watch ini mengingatkan pentingnya integrasi antara pembangunan kawasan inti dengan wilayah penyangga di sekitarnya.
Baca Juga:
RDMP Balikpapan Penopang IKN, MARTABAT Soroti Arah Baru Ketahanan Energi
“Percepatan investasi di KIPP harus dibarengi dengan perencanaan aglomerasi yang matang agar manfaat ekonomi IKN dapat dirasakan secara merata, tidak menumpuk di satu titik saja,” ujarnya.
Ia menilai pembangunan infrastruktur pendukung, seperti jalan kawasan KIPP 1A dan kawasan yudikatif dengan nilai kontrak triliunan rupiah, merupakan langkah strategis untuk memastikan kelancaran aktivitas pemerintahan dan ekonomi di masa depan.
Namun, Tohom juga mengungkapkan pentingnya pengawasan berkelanjutan agar proyek-proyek tersebut tetap tepat waktu, transparan, dan berorientasi pada kepentingan publik.
Baca Juga:
Masuk Tahap II, MARTABAT Prabowo–Gibran Tegaskan IKN Sudah Lewati “Point of No Return”
“IKN harus menjadi etalase peradaban baru Indonesia. Investasi asing memang penting, tetapi yang lebih penting adalah memastikan bahwa pembangunan ini berkelanjutan, inklusif, dan memberi nilai tambah bagi rakyat,” pungkasnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]