“Keberhasilan ini harus dijaga dengan konsistensi kebijakan dan kepastian eksekusi di lapangan,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa pembangunan 41 tower rumah susun dari total investasi Rp 12,3 triliun akan mempercepat pemenuhan kebutuhan hunian bagi aparatur sipil negara dan masyarakat di IKN.
Baca Juga:
IKN Kian Dilirik Dunia, Investor Arab Bangun Kawasan Mixed-Use
“Hunian adalah fondasi kota. Ketika hunian tersedia dengan baik, aktivitas ekonomi dan sosial akan tumbuh secara alami,” kata Tohom.
Dalam perspektif yang lebih luas, Tohom melihat proyek hunian ini sebagai katalis bagi masuknya investasi lanjutan di sektor lain, mulai dari jasa, pendidikan, hingga teknologi.
“IKN berpotensi menjadi showcase pembangunan perkotaan Indonesia di mata dunia, dan hunian modern adalah pintu masuknya,” ujarnya.
Baca Juga:
RDMP Balikpapan Penopang IKN, MARTABAT Soroti Arah Baru Ketahanan Energi
Tohom yang juga Ketua Aglomerasi Watch ini menyoroti pentingnya pembangunan IKN yang terintegrasi dengan wilayah penyangga di sekitarnya.
Menurutnya, keberhasilan IKN tidak hanya diukur dari megahnya bangunan, tetapi dari kemampuannya menciptakan aglomerasi ekonomi yang sehat dan berkeadilan.
“IKN harus tumbuh sebagai pusat pertumbuhan baru yang memberi manfaat bagi kawasan sekitar, bukan berdiri sebagai enclave eksklusif,” tegasnya.