Tohom mengatakan, perlindungan terhadap satwa endemik seperti orangutan, macan dahan, bekantan, dan beruang madu menunjukkan bahwa negara mulai menempatkan keberlanjutan sebagai ukuran keberhasilan proyek.
“Kalau tol dibangun cepat tapi merusak habitat, itu bukan kemajuan. Yang disebut maju adalah ketika infrastruktur hadir tanpa membuat alam kalah,” katanya.
Baca Juga:
TKDN IKN Dinilai Perkuat Ekonomi Nasional, MARTABAT Prabowo-Gibran: Jaga Identitas dan Kemandirian Nasional
Ia mengapresiasi langkah PT Waskita Karya (Persero) Tbk yang menerapkan teknologi konstruksi berkelanjutan, termasuk penggunaan timbunan ringan mortar busa.
Menurut Tohom, pendekatan tersebut membuktikan bahwa BUMN Indonesia mampu bekerja dengan standar global.
“Ini bukan proyek asal jadi. Ada kesadaran bahwa satwa harus merasa aman melintas, bukan sekadar dipindahkan,” ucapnya.
Baca Juga:
Komisi VII DPR Dorong IKN Jadi Destinasi Sports Tourism Lewat Ajang Fun Run Berkala
Tohom yang juga Ketua Aglomerasi Watch menilai pembangunan IKN memberikan preseden baru dalam pengelolaan kawasan aglomerasi nasional.
Ia menyebut integrasi antara jalan tol, hutan lindung, dan koridor satwa sebagai praktik tata ruang modern yang selama ini kerap hanya menjadi konsep di atas kertas.
“IKN sedang diuji. Kalau ini konsisten, kita punya model kota baru yang ramah alam,” katanya.