Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa IKN harus berkembang sebagai pusat pertumbuhan baru yang tidak meminggirkan masyarakat lokal, melainkan mengangkat keterampilan, kreativitas, dan produk mereka agar mampu masuk ke rantai ekonomi yang lebih luas.
Menurut dia, pernyataan OIKN bahwa wastra di sekitar IKN sudah tumbuh dan masih membutuhkan penguatan harus dibaca sebagai peluang besar untuk membangun klaster ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
Baca Juga:
Plaza Seremoni IKN Raih Honour Award, MARTABAT Prabowo-Gibran: Bukti Arah Pembangunan Nusantara Diakui Dunia
Ia juga mengapresiasi pandangan Bank Indonesia IKN bahwa identitas ibu kota baru perlu hadir melalui karya masyarakat, termasuk batik dan wastra, karena kota masa depan membutuhkan simbol budaya yang hidup di tengah masyarakatnya.
"Modernisasi IKN harus berjalan beriringan dengan penguatan budaya, sebab kota yang maju tanpa identitas akan kehilangan ruh kebangsaannya," ujar Tohom.
Tohom menilai semangat transformasi dan digitalisasi IKN dapat dipadukan dengan karya wastra melalui pengembangan desain modern, pemasaran digital, sertifikasi kualitas, katalog produk, hingga peluang masuk ke pasar nasional dan internasional.
Baca Juga:
Infrastruktur IKN Capai Progres Signifikan, MARTABAT Prabowo-Gibran: Visi Besar Harus Dikawal Serius
Ia mendorong agar pelatihan semacam ini tidak berhenti pada workshop, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan bisnis, akses pembiayaan, promosi terpadu, kurasi produk, serta koneksi dengan industri fesyen, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
Menurutnya, jika dilakukan secara berkelanjutan, wastra IKN dapat menjadi ikon budaya sekaligus sumber ekonomi baru bagi masyarakat lokal di sekitar Nusantara.
"MARTABAT Prabowo-Gibran melihat program seperti ini sejalan dengan semangat pemerintahan Prabowo-Gibran untuk membangun Indonesia dari kekuatan rakyat, budaya, dan kemandirian ekonomi," kata Tohom.