Gagasan Trans Borneo Railway sebelumnya ditawarkan oleh perusahaan asal Brunei Darussalam, Brunergy Utama Sdn Bhd, melalui rencana pembangunan jaringan kereta cepat sepanjang sekitar 1.620 kilometer.
Jalur tersebut diproyeksikan membentang dari Kalimantan Barat menuju Sarawak, Brunei Darussalam, Sabah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Balikpapan, hingga IKN.
Baca Juga:
Salah Transfer Jangan Dibiarkan, Nasabah Perlu Siapkan Bukti dan Segera Lapor Bank
Dalam konsep yang dipublikasikan Brunergy, proyek itu dirancang menggunakan teknologi kereta cepat dengan kecepatan operasional sekitar 300 hingga 350 kilometer per jam.
Dengan konsep tersebut, waktu tempuh antarkawasan di Pulau Kalimantan yang selama ini bisa memakan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari berpotensi dipangkas secara signifikan.
Tohom mengatakan, kehadiran kereta cepat lintas negara di Borneo dapat menjadi jawaban atas persoalan klasik konektivitas Kalimantan yang selama ini banyak bergantung pada jalan raya, sungai, dan transportasi udara.
Baca Juga:
PLN Watch Apresiasi Darmawan Prasodjo, 60 Pembangkit Baru Dinilai Jadi Fondasi Energi Indonesia
“Kalau konektivitas dibangun dengan benar, maka pedalaman Kalimantan tidak lagi menjadi halaman belakang pembangunan, tetapi bisa tumbuh menjadi beranda baru ekonomi Indonesia,” ucapnya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa konsep Trans Borneo Railway harus dibaca dalam kerangka aglomerasi kawasan yang lebih luas, khususnya hubungan antara IKN, kota-kota penyangga, kawasan industri, pelabuhan, bandara, dan pusat ekonomi lintas negara.
Menurut dia, konektivitas modern akan membuat pertumbuhan tidak hanya terkonsentrasi di satu titik, melainkan menyebar ke banyak wilayah yang selama ini belum menikmati akses infrastruktur secara optimal.